Daftar Blog Saya

Selasa, 12 Januari 2010

makalah jahe

I.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jahe (Zingiber officinale rose) yang termasuk famili Zingiberaceae, berasal dari bahasa sansekerta: Singaberi, dari bahasa arab:Zanzabil, dan dari bahasa yunani :Zingaberi. Jahe telah digunakan sebagai tanaman rempah dan obat sejak dulu. India dan Cina termasuk negara pemanfaat jahe sejak bertahun-tahun silam. Oleh karenanya, India diduga sebagai negara tempat jahe berasal. Sebelumnya telah disebutkan dalam De Materia Medica, bahwa jahe saat itu banyak digunakan sebagai obat pembantu pencernaan karena efek panasnya terhadap perut dan sebagai obat anti racun. Manfaat lain dari tanaman beraroma khas ini adalah sebagai persediaan makanan segar dan obat pencegah penyakit kulit para pelayar pada pelayaran antara Cina dan Asia Tenggara.

Di Indonesia, jahe telah diakrapi oleh sebagian besar masyarakatnya. Tak heran bila masing-masing daerah memiliki nama yang berbeda untuk menyebut tanaman berkasiat ini. Nama-nama daerah bagi jahe tersebut antara lain halia (Aceh), bahing (Batak karo), sipadeh atau sipodeh (Sumatera Barat), Jahi (Lampung), jae (Jawa), Jahe (sunda), jhai (Madura), pese (Bugis), lali (Irian).

Tanaman ini dapat tumbuh di daerah terbuka sampai agak ternaungi. tanah yang disukai berbahan organik tinggi, berjenis latosol atau andosol, dan berdrainase baik.Tanaman terna ini dapat tumbuh sampai pada ketinggian 900 meter dari permukaan laut, tetapi akan lebih baik tumbuhnya pada ketinggian 200-600 meter dari permukaan laut.. Budidaya jahe biasa dilakukan di ladang secara monokultur atau tumpangsari. Parbanyakan yang biasa dilakukan adalah cara vegetatif dengan perbanyakan rimpang.

.

Oleh karenanya, rimpang jahe merupakan bagian penting dari tanaman ini. Rimpangnya sangat bermanfaat membantu pencernaan, mencegah mual, sebagai antikoagulan, menurunkan tekanan darah, gigitan serangga, diare, rematik, dan masih banyak lagi manfaat dari tanaman ini.

Rimpang jahe merupakan bagian penting tanaman dan banyak manfaatnya, baik secara biologis maupun ekonomis.

Secara biologis rimpangnya sangat bermanfaat bagi kesehatan, misalnya membantu pencernaan, mencegah mual, sebagai antikoagulan, menurunkan tekanan darah, gigitan serangga, diare, rematik, dan masih banyak lagi manfaat dari tanaman ini.

Secara ekonomis, rimpang jahe dapat digunakan untuk berbagai kepentingan dalam bentuk jahe segar maupun jahe olahan. Jahe segar sering digunakan sebagai rempah dan berbagai keperluan lain seperrti obat tradisional. Sementara jahe olahan dapat berupa jahe kering, jahe asin, jahe dalam sirup, jahe kristal, bubuk jahe,minyak asiri, dan oleoresin. Masing-masing bentuk olahan itu memiliki manfaat yang berbeda-beda. Namun prospek bisnis kesemuanya sama bagusnya hal ini sesuai dengan hasil perhitungan analisis usaha bahwa membudidayakan dan mengusahakan pengolahan jahe bias mendatangkan keuntungan yang luar biasa.

1.2. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah

1. Untuk memenuhi persyaratan mengikuti perkuliahan tanaman obat.

2. Untuk mengetahui kegunaan tanaman jahe

3. Untuk menmbah pengetahuan tenang tanaman jahe

4. Untuk menambaha ketrampilan penulis menanam tanaman jahe.

1.3 Manfaat

Manfaat dari praktikum ini adalah

1. Untuk menambah wawasan penulis tentang tanaman jahe

2. Untuk menambah pengetahuan bagi pembaca makalah ini.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi dan Habitat

Klasifikasi jahe

Regnum : Plantae

Divisio : Pteridophyta

Sub-diviso : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Scitaminae

Famili : Zingiberaceae

Genus : Zingiber

Spesies : Zingiber officinale rose

Morfologi

Jahe (Zingiber officinale rose) merupakan tanaman terna tahunan dengan batang semu yang tumbuh tegak Tingginya berkisar 0,3 - 0,7 meter dengan akar rimpang yang bisa bertahan lama di dalam tanah. Akar rimpang itu mampu mengeluarkan tunas baru untuk mengganti daun dan batang yang sudah mati.

Tanaman jahe ini terdiri atas bagian akar, batang, daun dan bunga. Berikut ini akan diuraikan satu persatu.

  1. Akar

akar merupakan bagian terpenting dari tanaman jahe. Pada bagian ini tumbuh tunas-tunas baru yang kelak akan menjadi tanaman. Akar tunggal (rimpang) bertahan kuat di dalam tanah dan makin membesar dengan pertambahan usia serta membentuk rhizoma-rhizoma baru. Selain penting secara botani, akar juga merupakan bagian terpenting secara ekonomis. Akar rimpang jahe memiliki banyak kegunaan mulai sebagai bumbu masak, obat-obatan, sampai menjadi minyak jahe. Oleh karenanya tujuan penanaman jahe selalu untuk memperoleh rimpangnya.

Rimpang jahe memiliki aroma khas, bila dipotong berwarna putih, kuning, atau jingga. Sementara bagian luarnya kuning kotor, atau bila telah tua menjadi agak coklat keabuan. Akan tetapi bagian dalam rimpang jahe biasanya memiliki dua warna yaitu bagian tengah(hati) berwarna ketuaan dan bagian tepi berwarna agak muda.

  1. Batang

batang tanaman merupakan batang semu yang tumbuh tegak lurus. Batang itu terdiri dari seludang-seludang daun tanaman dan pelepah-pelepah daun yang menutupi batang. Bagian luar batang agak licin dan sedikit mengkilap berwarna hijau tua. Biasanya batang dihiasi titik-titik berwarna putih. Batang ini biasnya basah dan banyak mengandung air, sehingga tergolang tanaman herba.

Batang jahe merupakan batang semu dengan tinggi 30 hingga 100 cm.

c. Daun

Daun menyirip(berbentuk lonjong dan lancip) dengan panjang 15 hingga 23 mm dan panjang 8 hingga 15 mm, menyerupai daun rumput-rumputan besar. Daun itu sebelah menyebelah berselingan dengan tulang daun sejajar sebagaimana tanaman monokotil lainnya. Pada bagian atas, daun lebar dengan ujung agak lancip, bartangkai pendek, berwarna hijau tua agak mengkilap. Sementara bagian bawah berwarna hijau muda dan berbulu halus. Panjang daun sekitar 5 - 25 cm dengan lebar 0,8 - 2,5 cm. tangkainya berbulu atau gundul dengan panjang 5 - 25 cm dan lebar 1 - 3 cm. ujung daun agak tumpul dengan panjang lidah 0,3 - 0,6cm. Bila daun mati maka pangkal tangkai tetap hidup dalam tanah, lalu bertunas dan menjadi akar rimpang baru.

d.Bunga

Bunga jahe berupa bulir yang berbentuk kincir, tidak berbulu, dengan panjang 5 - 7 cm dan bergaris tengah 2 - 2,5 cm. Bulir itu menempel pada tangkai bulir yang keluar dari akar rimpang dengan panjang 15 - 25 cm. Tangkai bulir dikelilingi daun pelindung yang berbentuk bulat lonjong, berujung runcing dengan tepi berwarna merah, ungu, atau hijau kekuningan.

Bunga terlatak pada ketiak daun pelindung dengan beberapa bentuk, yakni panjang, bulat telur, lonjong, runcing, atau tumpul.

Panjangnya berkisar 2 - 2,5 cm dan lebar 1 - 1,5 cm. Daun bunga berbentuk tabung memiliki gigi kancil yang tumpul dengan panjang 1 - 1,2 cm. Sedang daun mahkota bagian bawah berbentuk tabung yang terdiri dari tiga bibir dengan bentuk pisau lipat panjang serta runcing yang berwarna kuning kehijauan.

Daun kelopak dan daun bunga masing-masing tiga buah yang sebagian bertautan. Pada bunga jahe, benang sari yang dapat dibuahi hanya sebuah sedangkan sebuah benang sari lain telah berubah bentuk menjadi daun. Staminoid-staminoidnya membentuk tajuk mahkota beruang tiga dengan bibir berbentuk bulat telur berwarna hitam belang.

Bunga jahe tumbuh dari dalam tanah berbentuk bulat telur dengan panjang 3,5 hingga 5 cm dan lebar 1,5 hingga 1,75 cm. Gagang bunga bersisik sebanyak 5 hingga 7 buah. Bunga berwarna hijau kekuningan. Bibir bunga dan kepala putik ungu. Tangkai putik berjumlah dua.

Habitat

Tanaman ini dapat tumbuh didaerah terbuka sampai agak ternaungi. Tanah yang disukai adalah tanah yang gembur, subur, berhumus, berbahan organik tinggi, dan berdrainase serta beraerasi baik.

Jahe merupakan tanaman monokotil yang memiliki akar serabut yang tumbuhnya tidak begitu dalam. Kedalaman optimal pengolahan tanah bagi tanaman jahe sekitar 10-20 cm.

Tanaman terna ini dapat tumbuh sampai pada ketinggian 900 meter dari permukaan laut, tetapi akan lebih baik tumbuhnya pada ketinggian 200-600 meter.

Tanaman jahe sangat tergantung pada ketersediaan air, karena jahe membutuhkan 7-9 bulan basah sebelum mengalami masa senescen.

Curah hujan yang dibutuhkan tanaman ini antara 2500-4000 mm per tahun.

Jenis Jahe

Jahe dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan ukuran, bentuk, dan warna rimpangnya, yaitu:

Jahe gajah

Merupakan jahe yang paling disukai di pasaran internasional. Memiliki rimpang yang besar gemuk dan rasanya tidak terlalu pedas. Jenis jahe ini bisa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar atau jahe olahan. Daging rimpang berwarna kuning hingga putih.

Jahe kuning

Jahe kuning/putih kecil biasa disebut jahe sunti. Merupakan jahe yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan, terutama untuk konsumsi lokal. Kandungan minyak asirinya lebih tinggi disbanding jahe badak, maka dari itu rasa dan aromanya lebih pedas. Ukuran rimpang sedang dengan warna kuning.

Jahe merah

Jahe jenis ini memiliki kandungan minyak asiri tinggi dan rasa paling pedas, sehingga cocok untuk bahan dasar farmasi dan jamu atau diekstrak oleoresin dan minyak asirinya. Ukuran rimpangnya paling kecil dengan warna merah.dengan serat lebih besar dibanding jahe biasa.

Kerabat Jahe

Jahe memiliki beberapa kerabat yang termasuk ke dalam famili Zingiberaceae. Famili tanaman yang tidak berkayu yang memiliki aroma khas ini sering digunakan sebagai rempah-rempah, bumbu, atau obat-obatan. Obat-obatan yang berasal dari bagian bawah tanah itu biasanya disebut empon-empon.

Kerabat jahe ini antara lain:

Limpuyang emprit (Zingiber americans)

Lempuyang wangi (Zingiber cassumunar)

Belakatuwa (Zingiber ordoriferum)

Bunglai hantu (Zingiber ottensi)

Lempuyang gajah (Zingiber zerumbet)

Gopak (Alpinia croeydocalyx), dan

Lengkuas (Alpinia galangal)

Perbanyakan

Tanaman jahe dapat diperbanyak dengan beberapa cara. Cara yang paling banyak dilakukan adalah cara vegetatif dengan menggunakan rimpangnya. Sedangkan cara vegetatif lain adalah menggunakan rumpunnya. Cara perbanyakan ini kurang banyak dilakukan pembudidaya jahe alasannya, dengan menggunakan rimpang lebih banyak tanaman yang diperoleh karena rimpang lebih kecil dengan beberapa tunas saja. Cara lain adalah dengan kultur jaringan (tissue culture). Cara ini adalah proses perbanyakan tanaman dengan menggunakan jaringan dari salah satu bagian tanaman. Cara kultur jaringan mampu memberikan hasil yang cepat, banyak, dan hasilnya sama persis dengan tanaman induknya. Hanya saja diperlukan pengetahuan, keterampilan, serta peralatan laboratorium yang tidak murah. Sampai saat ini baru balai-balai penelitian dan pembudidaya jahe bermodal besar yang menggunakan cara ini.

5. Kandungan

Jahe mengandung komponen minyak menguap (Volatile oil), minyak tak menguap (Non volatile oil), dan pati. Minyak menguap yang biasa disebut minyak asiri merupakan komponen pemberi bau yang khas, sedangkan minyak tak menguap yang biasa disebut oleoresin merupakan komponen pemberi rasa pedas dan pahit. Komponen yang terdapat pada oleoresin merupakan gambaran utuh dari kandungan jahe, yaitu minyak asiri dan fixed oil yang terdiri dari zingerol, shogaol, dan resin.

Komponen yang terkandung dalam rimpang jahe ini sangat banyak kegunaanya. Terutama sebagai rempah, industri farmasi dan obat tradisional, industri parfum, industri kosmetika, dan lain sebagainya. Untuk lebih jelas dibawah ini diuraikan secara rinci kandungan zat dalam jahe.

a. Oleoresin

Oleoresin adalah salah satu senyawa yang dikandung jahe yang bisa diambil. Bentuk olahan jahe yang berupa oleoresin ini memiliki banyak kelebihan, misalnya mampu mengatasi beberapa perubahan mutu saat jahe segar atau jahe kering dieksport, mengurangi volume kemasan jahe, mencegah pemalsuan atau penambahan benda lain pada jahe. Oleoresin, ternyata lebih ringkas dibanding bubuk jahe. 1 kg oleorosin setara dengan 28 kg bubuk jahe dengan kandungan dan cita rasa yang sama. Dengan demikian biaya pangangkutan bisa ditekan. Selain itu penggunaan lebih praktis, oleoresin mudah larut, mudah didisfersikan, serta lebih mudah diolah, oleoresin inilah penyebab rasa pedas dan pahit. Sifat pedas ini tergantung dengan umur panen. Semakin tua umur panennya semakin pedas dan pahit. Selain itu jenis jahe juga menentukan kandungan oleoresin. Dan jahe rasa pedasnya tinggi, seperti jenis emprit kandungan oleoresinnya tinggi sedangkan jenis badak rasa pedasnya kurang, kandungan oleoresin sedikit. Oleoresin dibuat dengan cara ekstraksi tepung jahe dengan pelarut organik tertentu. Pelarut yang biasa digungankan adalah ethanol, aseton, etilene dikhlorida, isopropenol dan heksan. Oleoresin termasuk minyak tak menguap sehingga cara mengekstraknya pun pada keadaan hampa udara. Komponen dalam oleoresin adalah zingerol, zingerone, shogoal, resin dan minyak asiri.

b. minyak asiri

Minyak asiri biasa disebut minyak eteris, minyak menguap/terbang atau essential oil. Ciri minyak asiri antara lain mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunayai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan tanaman penghasilnya dan umumnya larut dalam pelarut organic dan tidak larut dalam air. Minyak asiri merupakan salah satu dari dua komponen utama minyak jahe. Minyak asiri terdapat pada rimpang jahe segar, jahe kering, atau oleoresin. Minyak asiri diperoleh dengan cara mendestilasi jahe dengan sistem destilasi air, destilasi air dan uap, atau destilasi uap. Jahe kering mengandung minyak asiri sebanyak 1-3%. Sedangkan jahe segar kandungan minyak asirinya lebih banyak dari jahe kering. Apalagi kalau tidak dikuliti sama sekali.

Minyak asiri merupakan pemberi aroma khas pada jahe. Komponen utama minyak jahe adalah zingiberen dan zingiberol. Zingiberen adalah senyawa paling utama dalam minyak jahe memiliki titik didih 34’C pada tekanan 14mm. selama penyimpanan, senyawa zingiberen akan mengalami resinifikasi. Sementara zingiberol merupakan seskwiterpen alkohol yang menyebabkan aroma khas pada minyak jahe. Kegunaan minyak asiri adalah sebagai bahan baku minuman ringan, industri farmasi seperti parfum dan kosmetik, serta sebagai bahan penyedap. Kandungan minyak asiri pada rimpang jahe ditentukan dengan umur panen dan jenis jahe. Pada umur panen muda, kandungan minyak asiri banyak sedangkan pada panen tua kandungannya makin menyusut, walau baunya semakin menyengat. Bagian tepi dari umbi mengandung minyak lebih banyak dari bagian tengah demikian pula dengan baunya.

2.2 Kegunaan dan Khasiat Jahe

Penggunaan jahe sebagai obat tradisional telah banyak dilakukan orang sejak zaman dahulu.

Jahe segar dan jahe kering banyak digunakan sebagai bumbu masak atau pemberi aroma pada makanan. Jahe segar dapat juga digunakan sebagai obat. Irisan jahe yang diisap dapat melapangkan tenggorokan. Dapat juga bisa digunakan sebagai minuman penghangat badan yang biasa dikenal dengan “bandrek”.

Jahe muda dapat dimakan mentah sebagai lalap atau diolah menjadi jahe awet yang berupa jahe asin, jahe dalam sirup atau jahe dalam kristal. Jahe tua pun bisa diawetkan sebagai jahe kering dan jahe bubuk.

Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat.

Bagi masyarakat Tionghoa, jahe yang disangrai(digoreng tanpa minyak) ditambah beberapa ramuan lain diberikan kepada wanita yang baru melahirkan. Selain berkhasiat menghalau serangan angin dan menghangatkan tubuh, ramuan ini juga mengaktifkan sirkulasi darah dalam tubuh.

Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda.

Disamping itu minyak jahe dapat digunakan sebagai obat penambah nafsu makan, memperkuat lambung dan memperbaiki pencernaan. Proses yang terjadi adalah terangsangnya selaput lendir perut besar(kelenjar pencernaan) dan usus oleh minyak jahe. Dapat juga memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung.

Penelitian modern telah membuktikan secara ilmiah berbagai manfaat jahe, antara lain :

• Menurunkan tekanan darah. Hal ini karena jahe merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, akibatnya darah mengalir lebih cepat dan lancar dan memperingan kerja jantung memompa darah.

• Membantu pencernaan, karena jahe mengandung enzim pencernaan yaitu protease dan lipase, yang masing-masing mencerna protein dan lemak..

Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke, dan serangan jantung. Gingerol juga diduga membantu menurunkan kadar kolesterol.

• Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual. Termasuk mual akibat mabuk perjalanan.

• Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu mengeluarkan angin.

• Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.

Jahe sebagai Obat Praktis

Jahe merupakan pereda rasa sakit yang alami dan dapat meredakan nyeri rematik, sakit kepala, dan migren. Caranya, minum wedang jahe 3 kali sehari. Bisa juga minum wedang ronde, mengulum permen jahe, atau menambahkan jahe saat pada soto, semur, atau rendang.

Dau jahe juga berkhasiat, antara lain dengan ditumbuk dan diberi sedikit air dapat dipergunakan sebagai obat kompres pada sakit kepala dan dapat dipercikan ke wajah orang yang sedang menggigil.

Sedangkan rimpangnya ditumbuk dan direbus dalam air mendidih selama lebih kurang ½ jam, kemudian airnya dapat diminum sebagai obat untuk memperkuat pencernaan makanan dan mengusir gas di dalamnya, mengobati hati yang membengkak, batuk dan demam.

Untuk mengobati rematik rematik siapkan 1 atau 2 rimpang jahe. Panaskan rimpang tersebut di atas api atau bara dan kemudian ditumbuk. Tempel tumbukan jahe pada bagian tubuh yang sakit rematik. Cara lain adalah dengam menumbuk bersama cengkeh, dan ditempelkan pada bagian tubuh yang rematik.

Rimpang tumbuk juga dapat dipakai sebagai obat gosok pada penyakit gatal karena sengatan serangga.

Rimpang yang ditumbuk, dengan diberi sedikit garam, kemudian ditempelkan pada luka bekas gigitan ular beracun (hanya sebagai pertolongan pertama sebelum penderita dibawa ke dokter).

Untuk mencegah mabuk perjalanan, ada baiknya minum wedang jahe sebelum bepergian. Caranya: pukul-pukul jahe segar sepanjang satu ruas jari. Masukkan ke dalam satu gelas air panas, beri madu secukupnya, lalu diminum. Bisa juga menggunakan sepertiga sendok teh jahe bubuk, atau kalau tahan, makan dua kerat jahe mentah.

Mengatasi influenza dapat dilakukan dengan rimpang jahe ditambah ramuan lain. Caranya: taga gram jahe ditambah daun mentol, dua gram jeruk kering, dan dua gram kayu manis direbus bersama. Kemudian airnya diminium saat masuh hangat kuku.

Digunakan sebagai obat batuk

Caranya: potong jahe sebesar ibu jari lalu ditumbuk, setelah itu tambahkan madu dan air matang. Kemudian diminum.

Jahe juga dapat mengobati luka lecet dan luka tikam karena duri atau benda tajam, atau karena jatuh.

Caranya: Rimpang jahe ditumbuk dan ditambah garam sedikit lalu diletakkan pada luka.

Untuk mengatasi reumatik sendi,

Caranya: gunakanlah air perasan jahe yang dipanaskan, lalu kain yang dibasahi air perasan jahe ditempelkan pada tempat yang membengkak.

untuk syaraf muka yang sakit

Caranya: gunakan ramuan kentang dan tepung terigu yang dilunakan dan ditambah bubukjahe. Ramuan itu ditempelkan pada tempat yang sakit sampai sembuh.

Sebagai obat mencret

Caranya: 1 gelas perasan air temulawak diberi gula putih secukupnya ditambah 10 tetes air jahe,lalu diminumkan pada si penderita.

Mengobati eksim

Caranya: air jahe dicampur dengan perasan lobak kemudian dioleskan pada kulit yang terkena eksim, dalam waktu dua minggu hasilnya akan tampak.

III.METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Waktu

Tanaman kunyit di tanam pada 15 oktober 2009, pada pukul 16.00 WIB

Tempat

Tanaman jahe ditanam pada halaman rumah jl. Dakah no:10 labuhan ratu.

3.2 Alat dan Bahan

Alat :

1. Pot ukuran kecil

2. Cangkul

3. Kored

4. Penggaris

5. Gayung/ember kacil

6. Handphone (untuk pengambilan gambar)

7. Pisau

Bahan

1. Tanah

2. Bibit jahe

3. Pupuk kandang

4. Air

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Menyiapkan media tanam

Menyiapkan media tanam dengan cara mengolahan tanah terlebih dahulu.

Tanah yang digunakan adalah tanah yang berwarna hitam, gembur dan berhumus.

Satelah itu dilakukan pemupukan (sebelum tanam) dengan mencampurkan pupuk kandang pada tanah secara merata.

Tujuannya untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah dan memperbaiki struktur tanah seperti kegemburan tanah, drainase, dan aerasi.

Pembibitan/pembenihan

Memilih bibit tanaman jahe yang baik dan sehat merupakan langkah awal dari upaya memperoleh hasil panen yang optimal. Dengan bibit yang sehat, diharapkan tumbuh tanaman yang sehat dan resisten terhadap serangan hama dan penyakit.

Bobot bibit jahe berkisar antara 20-40 gram, makin besar ukuran bibit akan diperoleh pertumbuhan yang makin baik.

Bibit yang siap ditanam adalah bibit yang telah tumbuh minimal satu mata tunas.

Oleh sebab itu sebelum ditanam sebaiknya ditunaskan terlebih dahulu agar pertumbuhan tanaman dilapangan serentak.

Sebelum ditunaskan, rimpang jahe dipotong berukuran 3-5 cm lalu dibasahi kemudian disemai. Selanjutnya disimpan di tempat tuduh dengan kelembapan cukup sampai tumbuh tunas.

3. Penanaman

Setelah proses pembibitan tahap selanjutnya adalah menanam bibit kedalam tanah yang telah disiapkan dalam pot/polibek dengan membuat lubang tanam berdiamater 4-5 cm, dan kedalaman 6-8 cm dari dasar pot/polibek.

Kemudian tutup kembalu lubang yang telah terisi rimpang dengan tanah.

Untuk setiap pot/polibek yang telah terisi tanah, sebaiknya dimasukkan dua bibit yang telah memiliki tunas. Agar jika ada bibit yang mati, ada yang menggantikan.

5. Pemeliharaan

Setelah proses menanam selesai maka tanaman jahe hendaknya ditempatkan di lokasi yang teduh agar tidak terkena sinar matahari secara langsung yang dapat menyebabkan tanaman mati. Tahap selanjutnya yang perlu dilakukan adalah pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, penyiangan dan pembumbunan.

Tanaman jahe sangat tergantung pada ketersedian air sehingga harus selalu diperhatikan denganpenyiraman secara teratur. Penyiangan dilakukan agar tanaman jahe memperoleh unsur hara dan sinar matahari yang cukup. Sedangkan pembumbunan bertujuan agar rimpang bibit dapat tumbuh dengan baik.

IV. HASL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel pertumbuhan jahe

No

Tanaman

Tinggi tanaman (minggu ke) cm

0

1

2

3

4 5

1

Tanaman jahe (Zingiber officinale)

1 cm

3 cm

12 cm

22 cm

30 cm 40 cm

No

Tanaman

Lebar bagian tengah daun (minggu ke) cm

0

1

2

3

4 5

1

Tanaman kunyit

0,5 cm

0,7 cm

2 cm

3,1 cm

4 cm 5 cm

Kegitan yang dilakukan pada pemeliharaan tanaman kunyit yaitu :

1. Tanaman kunyit disiram setiap 3 hari sekali sebanyak 1 gelas plastik.

2. Tanaman kunyit di ukur tingginya setiap 1 minggu sekali menggunakan penggaris.

3. Apabila ada rimpang kunyit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya buruk, maka dilakukan penanaman susulan (penyulaman) rimpang lain yang masih segar dan sehat.

4. Penyiangan dan pembubunan perlu dilakukan untuk menghilangkan rumput liar (gulma) yang mengganggu penyerapan air, unsur hara dan mengganggu perkembangan tanaman. Kegiatan ini dilakukan 3-5 kali bersamaan dengan pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur ½ bulan dan bersamaan dengan ini maka dilakukan pembubunan guna merangsang rimpang agar tumbuh besar dan tanah tetap gembur.

5. Seperti halnya tanaman rimpang lainnya, pada kunyit pekerjaan pembubunan ini diperlukan untuk menimbun kembali daerah perakaran dengan tanah yang melorot terbawa air. Pembubunan bermanfaat untuk memberikan kondisi media sekitar perakaran lebih baik sehingga rimpang akan tumbuh subur dan bercabang banyak. Pembubunan biasanyadilakukan setelah kegiatan penyiangan dan biasanya dilakukan secara rutin setiap 3 hari sekali.

6. Penggunaan/pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan jumlah anakan, jumlah daun, dan luas area daun kunyit secara nyata.

Dalam percobaan masih menggunakan teknik sederhana membudidayakan jahe. menanam langsung bibit jahe ke dalam tanah Teknik ini kurang efektif karena hasil yang diperoleh kurang maksimal dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memanennya. Selain itu sulit menjaga kondisi air di dalam tanah. Untuk mengatasi hal ini polibek/pot sebagai media menanam jahe. Dengan polibek, pengawasan akan kebutuhan air tanaman jahe dapat lebih mudah dilakukan.

"Polibek juga berfungsi agar pupuk yang diberikan tidak terserap keluar, sehingga pupuk dapat terkonsentrasi di sekitar tanaman jahe,"

Untuk menanam jahe dalam polibek, bahan yang perlu dipersiapkan adalah merang padi, tanah, dan pupuk kandang yang kemudian dicampurkan dengan perbandingan 2:1:1. Yaitu, 2 ukuran merang berbanding 1 ukuran tanah berbanding 1 ukuran pupuk kandang. Sarjono mengatakan penggunaan merang ini berfungsi sebagai penggembur tanah sehingga pertumbuhan jahe tidak terganggu. Selain itu merang dapat menjaga kelembapan air di dalam polibek. Setelah tercampur merata bahan ini kemudian dimasukkan ke dalam polibek yang berukuran 40x50 cm, dengan ketinggian 10 cm dari dasar polibek. Langkah selanjutnya menyiapkan bibit jahe yang akan ditanam.

Sebaiknya bibit ditanam setelah mengalami proses penyemaian. Jahe yang akan dijadikan bibit dipotong berukuran 3-5 cm kemudian disemai. Setelah 2 minggu bibit jahe ini telah memiliki tunas. "Untuk setiap polibek yang telah terisi tanah, sebaiknya dimasukkan dua bibit yang telah memiliki tunas. Agar jika ada bibit yang mati, ada yang menggantikan,"

. Setelah itu polibek yang terisi bibit jahe disusun berbaris agar memudahkan dalam proses penyiraman. Namun, kata Sarjono, hendaknya bibit ditempatkan di lokasi yang teduh agar tidak terkena sinar matahari secara langsung yang dapat menyebabkan tanaman mati. "Tanaman produksi lainnya dapat ditanam di sekitar lokasi polibek yang berfungsi untuk membayang-bayangi tanaman jahe. Selain itu tanaman tersebut juga dapat memberikan penghasilan tambahan," katanya. Tahap selanjutnya perawatan tanaman dengan menyiram secara teratur.

Selain itu, menurut Sarjono, agar pertumbuhan bibit jahe dapat lebih maksimal diberikan pupuk nonorganik seperti MPK. Selain itu, rumput yang biasanya ikut tumbuh di dalam polibek juga sebaiknya dibersihkan agar tidak mengganggu pertumbuhan jahe. Setelah tiga bulan biasanya tunas jahe di polibek telah tumbuh setinggi 10 cm, pada tahap ini volume tanah di dalam polibek harus ditambah, bahan yang digunakan untuk menambah memiliki perbandingan 1:1:1 yaitu, 1 ukuran merang berbanding 1 ukuran tanah berbanding 1 ukuran pupuk kandang.

Volume bahan yang ditambahkan setinggi 5 cm dari dasar bahan yang sebelumnya. Hal ini di lakukan setiap tiga bulan sekali atau jika tanaman jahe telah tumbuh 10-15 cm dari dasar tanah dalam polibek. "Dalam setahun atau hingga jahe siap dipanen penambahan volume tanah ini dapat dilakukan sebanyak 3 hingga 4 kali," kata Sarjono. Dengan metode ini Sarjono mengatakan saat dipanen nantinya setiap polibek dapat menghasilkan jahe antara 2-4kg/polibek. Namun, jika panen di tunda ukuran dan volume jahe juga akan terus bertambah selama perawatan masih dilakukan. n SUDIRMAN/D-2

4.2 Pembahasan

V. KESIMPULAN

Daftar Pustaka

Lingga, Pinus, 1987 Resep-resep Obat Tradisional, Jakarta: Penebar Swadaya.

Paimin, Murhananto, 2000 Budidaya, Pengolahan, dan Perdagangan Jahe, Jakarta:

Penebar Swadaya.

Suharjono, 1989 Budidaya Jahe, Rempah Yang Makin Diminati, Sura Karya.

Suratman, dkk., 1987 Pedoman Bercocok Tanam Jahe, Balittro: Badan Penelitian dan

Pengembangan Pertanian.

Jahe (Zingiber officinale), adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron.

Jahe termasuk suku Zingiberaceae (temu-temuan). Nama ilmiah jahe diberikan oleh William Roxburgh dari kata Yunani zingiberi, dari bahasa Sansekerta, singaberi.

LAMPIRAN

1 komentar:

  1. PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

    menyediakan biotan untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www TOKOPEDIA.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

    BalasHapus